Ternyata Cincin Kawin Semarang dari 5000 Tahun di Negara Mesir

Pernahkah Anda bertanya-tanya kapan orang mulai memakai cincin sebagai tanda komitmen mereka untuk menikah? Ternyata tradisi ini sudah berlangsung sangat lama, jauh melampaui awal penanggalan Masehi.

Cincin kawin semarang terbuat dari bahan yang berbeda dari era yang berbeda, tetapi tidak menggoyahkan kepercayaan bahwa simbol diperlukan untuk merayakan penyatuan keduanya. Buktinya selama ini adalah penggunaan cincin kawin. Bagaimana cincin kawin terkadang bergerak sebagai simbol pernikahan?

Cincin Rumbai Mesir Kuno

Dengan kebiasaan saat memakai cincin kawin sesungguhnya sudah dimulai sejak 5000 tahun lalu di zaman Mesir kuno. Walaupun bahan cincin yang digunakan ini tidak bisa bertahan lama setelah upacara pernikahan selesai dan harus sering diganti, tetapi konsepnya disepakati dan diterima dengan baik. Seiring  waktu, mereka menemukan bahan yang lebih kuat untuk membuat cincin ini. Selain itu, cincin menjadi semakin mahal, estetis, dan tentu saja lebih pribadi.

Cincin Logam Yunani dan Romawi

Tradisi memakai cincin kawin ini  berlanjut dari zaman Yunani kuno hingga 27 SM. Sampai 476 M dari Kekaisaran Romawi. Saat itu, cincin dibuat dari berbagai bahan, dari kulit dan tulang binatang hingga gading binatang.

Namun, di zaman Romawi, cincin terbuat dari logam, lebih khusus lagi besi. Ini dianggap sangat kuat dan sangat tahan lama, mengingat dedikasi seumur hidup.

Di sini, Ring mulai menemukan jalan ke kelas sosial yang berbeda. Untuk kelas atas, pilihan logam mulai berubah menjadi emas dan perak, tetapi ini lebih mahal. Cincin itu telah dipersonalisasi sejak Abad Pertengahan.

Salah satunya adalah dengan menambahkan patung dengan berbagai bentuk. Dari wajah mempelai hingga tangan yang terkepal, hingga kalimat-kalimat pendek dengan makna khusus. Semakin panjang model cincinnya, semakin modern dan kompleks jadinya.

Yang paling terkenal adalah Cincin Simmel. Ini adalah 23 cincin yang saling mengunci, yang jika dipakai bersama-sama, akan menjadi cincin yang sempurna. Berlian  juga  digunakan sebagai perhiasan untuk cincin kawin semarang.

Tidak hanya menambah keindahan estetis, berlian sebagai material terkeras di dunia yang tak lekang oleh waktu sejalan dengan idealisme pernikahan itu sendiri. Cincin kawin berlian umumnya tidak menggunakan berlian besar, tetapi kehadirannya penting.

Kapan pria memakai cincin kawin? Penggunaan cincin kawin di Mesir kuno, Yunani, dan Roma hanya untuk wanita (kecuali cincin Simmel). Tradisi memakai cincin kawin untuk pria baru dimulai pada pertengahan abad ke-20.

Pria mulai merasa perlu untuk menunjukkan dedikasi dan kesetiaan mereka kepada istri mereka selama Perang Dunia II. Saat itu, para prajurit mengenakan cincin kawin untuk memperingati istri tercinta mereka ketika mereka dikirim ke luar negeri.

Seiring waktu, penggunaan cincin kawin oleh pria menjadi semakin umum. Model dan bahan lebih sederhana dan lebih mendasar, tetapi bukti bahwa upaya untuk menunjukkan komitmen terhadap pernikahan sekarang diterapkan baik pada pria maupun wanita.

Di mana Anda memakai cincin kawin Anda? Lokasi cincin kawin tergantung pada budaya. Dari Mesir kuno hingga Roma, cincin kawin wanita dipasang di jari manis, yang merupakan jari manis tangan kiri. Ini karena vena jari manis terhubung langsung  ke jantung.

Jantung sering disebut sebagai urat nadi cinta. Ini berlanjut  di negara-negara Federasi Inggris, sebagian Eropa Barat, Eropa Timur, dan sebagian Amerika. Rinciannya adalah Australia, Botswana, Kanada, Mesir, Irlandia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Inggris Raya, Amerika Serikat, Prancis, Italia, Portugal, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, Slovakia, Swiss, Kroasia, Slovenia, dan Rumania.

Bahkan di Catalonia dan Valencia, yang termasuk Spanyol. Sedangkan Bulgaria, Yunani, Georgia, Latvia, Lituania, Makedonia Utara, Rusia, Serbia, Ukraina, Austria, Belgia, Denmark, Jerman, Hongaria, Polandia, Belanda, Katolik, Norwegia, Spanyol, Kolombia, Kuba, Peru, Venezuela.

Di negara-negara Asia dan Islam, memakai cincin sebenarnya tidak wajib, tetapi tetap menjadi tradisi yang berulang. Sebagai contoh, di Indonesia, lazimnya memakai cincin  di jari manis tangan kiri dan menekannya di jari manis tangan kanan dalam sebuah upacara pernikahan. Belakangan ini semakin banyak pasangan di Indonesia yang menyadari pentingnya cincin tunangan (cincin lamaran) yang berbeda dengan cincin kawin.

Mengetahui sejarah panjang cincin kawin semarang, tidak diragukan lagi bagi mereka yang merencanakan pernikahan, hati-hati memilih cincin kawin yang paling tepat yang akan tetap menjadi simbol cinta  selamanya.